Blok Konten Porno berujung Rusuh?
Posted by y3dips on March 31 2008 12:01:31
Harapan dari kami (dan saya rasa kita semua) adalah yang terbaik buat bangsa ini, peraturan ini saya rasa di ciptakan untuk membuat sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat untuk menciptakan generasi-generasi yang handal bagi bangsa ini khususnya di bidang IT dan bukan sebaliknya. Perlu diingat, negara lain sudah melakukan latihan perang cyber dan bahkan beberapa negara di infokan sudah melakukan perang cyber. Lalu, Bagaimana Indonesia ?
Extended News
Sebenarnya ini adalah urusan yang sedehana; "mem-block konten porno". Siapa yang tidak setuju? saya individu setuju 100% dengan hal ini, tetapi kejadian ini semakin memburuk dengan statement dari salah satu individu serta ke-tidak ahlian media yang ada menyikapi statement tersebut yang kemudian menuduh hacker dan blogger sebagai pihak yang akan menolak keras hal ini, dan akhirnya malah meruncing dengan di "deface"-nya situs MENKOMINFO dan GOLKAR oleh individu yang tidak mengaku hacker dan blogger.

Beberapa hari yang lalu, echo|zine (sebuah majalah underground; independent yang sudah terbit sejak 2003) merilis sebuah wawancara kontroversial dengan "pelaku" tindakan "defacement" tersebut, hal ini juga tidak kami rencanakan, karena dimalam sebelum kami merilis echo|zine issue #18 tersebut kami dengan tidak mengharapkan apapun (kecuali kejelasan di kedua belah pihak; agar berimbang) mengirimkan sebuah email tawaran "interview" dengan pelaku, caranya pun cukup sederhana: Kami hanya menghubungi email (siapakah.akyu@yahoo.com) yang selalu di tinggalkan dengan suatu alasan (kami rasa) oleh pelaku pada gambar yang dia tampilkan dalam tindakan "defacing"nya, dan dengan tidak kami sangka pelaku pun menerima dan membalas interview kami sehingga pada saat-saat terakhir kami ikutkan untuk di rilis di echo|zine (dengan terlebih dahulu diskusi yang kami lakukan secara internal).

Tidak ada motif terselubung dibalik di rilisnya wawancara ini, motif satu-satunya adalah ingin mengetahui apa alasan dari pelaku terhadap tindakannya tersebut, dan mudah-mudahan mengurangi opini-opini kita yang malah terkadang berusaha berpikir jauh bahkan menghakimi tanpa perimbangan media. Dengan wawancara ini pula kami tidak ada maksud membenarkan apapun yang dilakukan oleh individu tersebut tetapi mudah-mudahan memberikan pelajaran bagi kita semua dalam bersikap dan mengemukakan pendapat. (ex: cara pelaku menggunggkapkan pendapat melalui tindakan mendeface atau seorang "pakar" yang bolak-balik menuduh dan memperkeruh suasana,
silahkan pilih cara anda ?)

Hasil wawancara ini cukup menjadi perbincangan hangat di berbagai forum dan mailing-list, bahkan beberapa individu mengkhawatirkan keberadaan echo yang hampir tidak "anonymous", (yup, kami bahkan sering berdiskusi di hadapan publik baik dalam bentuk seminar, demo, dan acara opensource lainnya) akan berujung kepada suatu hal yang tidak diinginkan. Baiklah, kami jelaskan disini alasan kami tidak berlaku "anonymous" (sebagian staff tetap berlaku anonymous karena alasan pribadi yang kami hormati) sejak 3 tahun terakhir adalah dikarenakan kami ingin di anggap "eksis" oleh seluruh komunitas, kami boleh saja berjiwa "underground" tetapi apa yang kami lakukan kami harap dapat di pertanggung-jawabkan. Banyak sekali komunitas underground yang eksis (secara underground) di indonesia, tetapi karena tidak ada individu/pihak yang "dikenal" maka terkadang mereka semakin di-underground"-kan bahkan tidak di anggap karena ketidakjelasan komunitas dan individu itu sendiri.

Disinilah, kami yang memiliki media berupa majalah elektronik, setidaknya kami harap dapat mewakili komunitas underground dan berusaha untuk secara jujur dan "terang-terangan" memberikan semampu kami, sehingga media ini (echo|zine) tidak hanya menjadi saluran informasi teknikal atau di hiasi dengan barisan kode pemrograman, tetapi juga diisi ide-ide serta berita-berita yang up-to-date terhadap perkembangan dunia kita (MAYA).

Dan jika anda bertanya saran apa yang bisa saya berikan menanggapi hal itu (block konten porno), maka kami cuma bisa senada dengan Bpk. Budi Rahardjo serta Kang onno yang baru baru ini bahkan mengirimkan cara-cara untuk melakukan blocking terhadap konten/situs-situs yang tidak disukai (bukan hanya porno) ke banyak mailing list, adapun Budi Rahardjo dalam blognya menulis

-"Ada kasus dimana orang (yang dikhawatirkan adalah anak-anak) secara tidak sengaja masuk ke situs pornografi. Solusi untuk ini adalah menyediakan proxy yang bebas dari pornografi dan kekerasan. Jadi sifatnya adalah optional atau pilihan. Nah, Pemerintah bisa mendanai inisiatif atau proyek proxy bebas pornografi ini. Bagi yang menginginkan hal ini, tinggal set proxynya ke layanan ini. Bukankah ini lebih elegan?"

Saya menilai apabila pemerintah dengan secara "paksa" menjalankan rencana ini tanpa perhitungan yang matang pun tidak ada rakyat yang bisa melarangnya (kecuali TUHAN), tetapi cobalah dipikirkan berapa banyak dana keringat rakyat/pajak) yang di kucurkan serta menyiapkan sumber daya yang kompeten dalam waktu singkat, saya cukup sepaham dengan Pak M.Nuh selaku Menkominfo yang menanggapi hal ini secara logis dengan pernyataan bahwa untuk melakukan blocking tidak harus 100%" disebuah media elektornik, berbeda dengan gembar-gembor yang disebarkan berbagai pihak, belum lagi isu dana yang akan di habiskan pemerintah serta pendapat dari individu yang menyampaikan metode untuk "memonopoli internet" sampai kepada penuduhan blogger dan hacker yang jelas-jelas MEMPERKERUH SUASANA.

Harapan dari kami (dan saya rasa kita semua) adalah yang terbaik buat bangsa ini, peraturan ini saya rasa di ciptakan untuk membuat sesuatu lebih baik dan bermanfaat untuk menciptakan generasi-generasi yang handal bagi bangsa ini khususnya di bidang IT. Ingat, negara lain sudah melakukan latihan perang cyber dan bahkan beberapa negara di infokan sudah melakukan perang cyber. Lalu, Bagaimana Indonesia ?